Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

News Flash

FORMULARIUM NASIONAL

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 328/MENKES/SK/VIII/2013 TENTANG FORMULARIUM NASIONAL

Link Download FORMULARIUM NASIONAL




Dalam rangka pendataan data dasar RS yang telah teregistrasi atau memiliki kode RS diharapkan untuk melakukan Updating melalui RS Online melelui www.buk.depkes.go.id

Link RS Online




SE No. HK.03.03/III/1397/2013 tentang Kewaspadaan Kasus Middle East Respiratory Coronavirus

Link Download




contoh surat-surat palsu

**Download Contoh Surat Palsu**




eMonevBUK

Bagi Satker yang belum melaporkan realisasi DAK triwulan II dimohon untuk segera mengisi melalui eMonevBUK. Pelaporan DAK Triwulan II akan ditutup bulan 1 Oktober 2013

Visitors Counter

Mulai Tanggal 11 Oktober 2010
229144
Today194
Yesterday2611
This Week21621
This Month79376
All Days2291449
Home
Pengembangan Pelayanan Keterapian Fisik Di Rumah Sakit

SEMARANG - Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan yang diwakili oleh Direktur Bina Upaya Pelayanan Keperawatan dan Keteknisian Medik, Suhartati, S.Kp, M.Kes membuka acara Pengembangan Pelayanan Keterapian Fisik di Rumah Sakit pada tanggal 29 April 2011 yang dihadiri oleh 71 peserta yang terdiri dari Pejabat di lingkungan Ditjen Bina Upaya Kesehatan, narasumber, Dokter Spesialis Ortopedi, Neurologi, THT dan Anak, Ketua organisasi Profesi : ahli bedah ortopedi, ahli saraf, spesialis THT, Rehabilitasi Medik, Fisioterapi, Okupasi Terapi dan Terapi Wicara, Kepala Departemen KMKF, Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik, Para akademis (Kaprodi Okupasi Terapi Poltekes Solo, S1 Fisioterapi Fak.

 

Kedokteran UNHAS Makasar, Akademi Terapi WIcara Jakarta, Para pelaksana pelayanan keterapian fisik dari RS Pusat dan Daerah (Banda Aceh, Medan, Pekan Baru, Bangka Belitung, Palembang, Banten, Bandung, Cirebon, Purwokerto, Kendal, Jogjakarta, Semarang, Magelang, Jombang, Sragen, Surabaya, Kalbar, Kaltim, Kalteng, Menado, Ambon) serta Subdit Bina Pelayanan Keteknisan Medik dan Keterapian Fisik Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan dan Keteknisan.

Dalam rangka mendukung tercapainya akses pelayanan kesehatan yang berkualitas, maka salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah menyediakan layanan, SDM maupun fasilitas yang berkualitas dan terjangkau. Hal ini didukung dengan kebijakan perumah-sakitan antara lain adalah tentang pemberlakuan standar mutu pelayanan kesehatan yang harus dicapai oleh rumah sakit secara berkelanjutan melalui standarisasi, perizinan dan akreditasi rumah sakit.

Berdasarkan UU RI No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit, bahwa semua rumah sakit di Indonesia wajib melaksanakan dan memenuhi standar pelayanan rumah sakit. Kementerian Kesehatan, dalam hal ini berperan untuk menetapkan berbagai kebijakan dan standar untuk melakukan pemantauan dan menilai serta mendorong rumah sakit untuk melaksanakan standar pelayanan, sehingga mutu pelayanan rumah sakit dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini berarti bahwa pemerintah menginginkan rumah sakit selalu meningkatkan mutu pelayanannya, termasuk pelayanan keterapian fisik yaitu; fisioterapi, okupasi terapi dan terapi wicara.

Indonesian Health Profile tahun 2005 menyebutkan umur harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat dari tahun ke tahun. Umur harapan hidup orang Indonesia pada tahun 1980 adalah 52 tahun yang kemudian meningkat menjadi 63 tahun pada tahun 1995 dan meningkat kembali menjadi 66 tahun pada tahun 2002. Salah satu sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional /RPJM-N adalah meningkatnya umur harapan hidup dari 66,2 tahun menjadi 70,6 tahun. Dengan meningkatnya umur harapan hidup, maka populasi penduduk yang berusia lanjut juga mengalami peningkatan secara bermakna. Pada tahun 2005 jumlah penduduk yang berusia lanjut di Indonesia adalah 16,7 juta jiwa atau 7,8% dari jumlah penduduk. Pada tahun 2010 diperkirakan akan meningkat menjadi 24 juta jiwa atau 9,7% dari jumlah penduduk. Salah satu permasalahan yang sangat mendasar pada usia lanjut adalah peningkatan penyakit degeneratif yang bersifat kronis dan multi patologis serta penggunaan alat bantu. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan keterlibatan pelayanan keterapian fisik.

Berdasarkan Susenas tahun 2000 disebutkan bahwa prevalensi penyandang cacat di Indonesia adalah sebesar 0,8% dengan prevalensi terbesar pada katagori handicap. Penderita autis di Indonesia setiap tahunnya terus bertambah. Menteri Kesehatan RI dalam pembukaan rangkaian Expo Peduli Autisme tahun 2008 menyatakan bahwa jumlah penderita autis di Indonesia sampai dengan tahun 2004 sejumlah 475 ribu penderita. Pada tahun 2009 diperkirakan setiap 1 dari 150 anak yang lahir menderita autisme (Bolehnet Indonesia, 2009) Untuk penanganan kasus tersebut peran Terapi Wicara amat diperlukan disamping Fisioterapi dan Okupasi terapi. Humas