Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

News Flash

FORMULARIUM NASIONAL

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 328/MENKES/SK/VIII/2013 TENTANG FORMULARIUM NASIONAL

Link Download FORMULARIUM NASIONAL




Dalam rangka pendataan data dasar RS yang telah teregistrasi atau memiliki kode RS diharapkan untuk melakukan Updating melalui RS Online melelui www.buk.depkes.go.id

Link RS Online




SE No. HK.03.03/III/1397/2013 tentang Kewaspadaan Kasus Middle East Respiratory Coronavirus

Link Download




contoh surat-surat palsu

**Download Contoh Surat Palsu**




eMonevBUK

Bagi Satker yang belum melaporkan realisasi DAK triwulan II dimohon untuk segera mengisi melalui eMonevBUK. Pelaporan DAK Triwulan II akan ditutup bulan 1 Oktober 2013

Visitors Counter

Mulai Tanggal 11 Oktober 2010
239675
Today2343
Yesterday3067
This Week2343
This Month77271
All Days2396752
Home BUKD Tujuh Rumah Sakit Tanda Tangani Komitmen Akreditasi Internasional
Tujuh Rumah Sakit Tanda Tangani Komitmen Akreditasi Internasional

Jakarta—Tujuh rumah sakit kelas A menandatangani surat pernyataan komitmen untuk mendukung dan melaksanakan Akreditasi International (Joint Commission International) yang merupakan program prioritas Kementerian Kesehatan. Penandatanganan disaksikan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS dan Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan dr. Chairul Radjab Nasution, SpPD, K-GEH, FINASIM, M.Kes, Kasubdit Akreditasi BUKR drg. Sophia Hermawan, M.Kes dan Komisioner Komiter Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

Ketujuh rumah sakit itu adalah RSCM, RSUP FATMAWATI, RSUP ADAM MALIK, RSUP DR SARDJITO, RSUP SANGLAH DENPASAR, RSUP Dr. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR, dan RSPAD GATOT SUBROTO .

“Tahun 2013 diharapkan 19 rumah sakit sudah terakreditasi, sehingga target MDGs dapat tercapai, ujar Dirjen BUK Supriyantoro dalam usai penandatanganan komitmen dan Bimbingan Teknis Akreditasi RS Menuju Pelayanan Internasional yang diadakan Sub Direktorat Akreditasi di Hotel Sahid Jaya, 24-25 Juni 2011. Berdasarkan SK Menteri Kesehatan No. 1195 Tahun 2010 tentang Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Bertaraf Internasional diisyaratkan bahwa arah pengembangan mutu pelayanan rumah sakit adalah menuju pelayanan Internasional.

Sistem akreditasi rumah sakit Indonesia berkiblat pada badan akreditasi internasional Joint Commission Internasional. Untuk mendapatkan akreditasi itu harus dilakukan perbaikan-perbaikan dalam hal peningkatan mutu pelayanan, SDM, sarana prasarana, administrasi dan komunikasi yang mengarah kepada pencapaian akreditasi international. Perbaikan-perbaikan itu dikelompokkan dalam Standar Pelayanan Berfokus Pada Pasien, Standar Manajemen Rumah Sakit, Sasaran Keselamatan Pasien Rumah Sakit dan Sasaran Milenium Development Goals.“Kiblat akreditasi Kementerian Kesehatan memang JCI. “Tapi bukan berarti ISO jelek,”tegas Supriyantoro. Di Indonesia, saat ini ada 4 rumah sakit swasta yang sudah berhasil mendapatkan pengakuan JCI.

Rumah sakit itu adalah RS Siloam Karawaci, RS Bintaro Tangerang, RS Sentosa Bandung dan RS Eka Bandung. Direktur BUK Rujukan Chairul Radjab menambahkan, dalam upaya mencapai target Rencana Strategis Kementerian Kesehatan bahwa rumah sakit harus terakreditasi secara Internasional minimal di 5 kota pada akhir 2014, diperlukan komitmen yang tinggi dari para direktur dari 7 RS yang dijadikan model untuk akreditasi Internasional. “ sementara 12 RS vertikal lain berminat untuk mempersiapkan diri menuju standar internasional,”jelasnya.

Supriyantoro menambahkan, rumah sakit di Indonesia memiliki tantangan besar oleh karena trend pengobatan ke luar negeri terus meningkat. Tahun 2005 saja, ujar dia, devisa negara keluar sebanyak Rp 70 triliun untuk pengobatan ke luar negeri.“Tahun 2011 diperkirakan devisa yang keluar lebih dari Rp.110 triliun karena trendnya terus meningkat,”tambahnya.

Sebab itu, beliau meminta 1678 rumah sakit di Indonesia segera berbenah diri memperbaiki manajemen yang berorientasi pada customer care dan patient safety serta mendapatkan akreditasi JCI dalam setiap pelayanannya. “Tolong. Investasikan dana-dana BLU untuk investasi SDM dan memperbaiki kelemahan-kelemahan kita seperti komunikasi dan kurangnya budaya pelayanan dan kepedulian,”jelasnya. Karena terus terang, tambahnya, pelayanan kesehatan yang berkeadilan belum tercapai. “Pelatihan menuju akreditasi internasional sangat penting, terlihat dari animo stakeholders rumah sakit yang besar,”

Animo stakeholders rumah sakit terhadap pelatihan-pelatihan guna meraih sertifikat akreditasi memang besar. Ini diakui Chairul Radjab. “Yang diundang 7 rumah sakit, tapi yang mendaftar 19 rumah sakit, dengan total peserta 130 orang,”

Chairul menambahkan, pelatihan bimbingan teknis akreditasi ini bertujuan membantu rumah sakit agar dapat memahami akreditasi RS menuju pelayanan Internasional secara mendalam, meliputi langkah-langkah yang akan dilakukan dalam akreditasi RS. “Kami membantu rumah sakit agar bisa dapat akreditasi JCI,”ujar Chairul.

Kasubdit Akreditasi BUKR, drg.Sophia Hermawan,M.Kes menambahkan, dengan semakin banyak rumah sakit yang mendapat sertifikasi internasional JCI, kualitas layanan rumah sakit di Indonesia bisa bersaing dengan rumah sakit di luar negeri. “Sehingga trend pengobatan ke luar negeri bisa ditekan, berkurang bahkan berhenti,ujar Sophia.

Sementara salah satu pembicara seminar, DR. Dr. Sutoto, Mkes mengatakan bahwa standard akreditasi internasional memang JCI. Namun nanti digunakan juga standar akreditasi baru yang bisa berlaku untuk semua rumah sakit. Pada standard akreditasi baru ini, ujar dia, hasil akreditasi bukan lulus atau tidak lulus. “Tapi tingkatan level akreditasi dibagi atas pratama, madya, utama dan paripurna.”. Humas